Images

Demokrasi Kebablasan, Era Keterbukaan Tanpa Batas ala Indonesia

Langsung saja.
Saya mau menyampaikan pendapat saya.
Mohon maaf sebelumnya, apa yang akan saya utarakan ini hanya pikiran orang awam biasa, dan pelajar ingusan kelas sebelas yang masih sangat minim pengetahuan yang bahkan belum genap berusia 17 tahun, juga bukan ahli di bidang menulis, dan apalagi pengamat politik. Jadi, apabila kita berbeda pikiran, saya mohon maaf sebesar-besarnya. Mohon koreksinya yaa, CMIIW
Ini tidak ada intervensi dari pihak manapun, konten yang saya sajikan tidak bermaksud untuk menghina, mencela, memojokkan, mencitrakan, mendongkrak, membela, ataupun memihak pihak manapun. :)
Saya disini berada di garis tengah.

Oke, here we go.
Yang akan dibahas kali ini adalah kondisi media massa Indonesia kini.

Q : Mengapa anda tiba-tiba membahas masalah media massa, ada angin apa ?
A : Baiklah, sebenarnya sudah lama dalam benak saya untuk menuliskan unek-unek ini, cuma baru kali ini tergugah keinginan untuk menuliskannya disini. Sempat saya membuat akun twitter @GarudaaMudaa dan beberapa jejaring sosial lainnya dengan @garudamuda atau @younggaruda. Lalu, setelah bertukar pendapat dengan banyak orang dan membuat tugas karya ilmiah kelas XI yang judul kelompok saya adalah "Pengaruh Media Massa terhadap Citra Bangsa", berbagai ilmu baru saya dapatkan, dan saya ingin memberikan opini yang menurut pendapat saya, tidak begitu buruk.
Dahulu kala saya pernah melakukan kultweet di twitter @regaa_ , tapi sepertinya masih kurang peminat. Begitu pula dengan laman blog ini. Huehue

Q : Baiklah, tetapi, mengapa anda menggunakan bahasa yang formal ?
A : Ah, anda ini bisa saja. Ok. Kita santai saja.

Q : Maaf, itu masih formal, mas.
A : Iye, bawel, mau nanya apa lagi ?

Q : Nah, gini kan enak. Mau mbahas apa nih tentang media massa ?
A : Ya, pandangan gue tentang media massa Indonesia itu kayak apa lah, kan elo yang nanya duluan, gimana sih.

Q : Ok, mas. Sabar. Santai. Oke. Pertanyaan selanjutnya, gimana sih pandangan mas tentang media massa Indonesia saat ini ?
A : Em, luas sih. Tapi, menurut gue, di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi saat ini, peranan media massa bisa gue bilang, punya probabilitas untuk membahayakan negeri ini. Setiap tayangan, berita, hiburan, dari media, terutama televisi, itu bersifat persuasif dan sugestif. Maksudnya, bagi orang yang gampang nerima atau orang awam dan percaya hal-hal gituan, setiap pernyataan yang media lontarkan, hampir 100% mereka anggap ini sebagai FAKTA.
Nah, ini kan bahaya. Soalnya, media kita kebanyakan nyiarin hal-hal negatif, betul ?

Q : Ya, jangan tanya gue dong. Kan gue disini yang jadi nanya-nanya. Em, tapi kalo boleh tau, hal-hal negatif apa ya mas ?
A : Gini, tiap elo ngliat tayangan media, apa yang lo temuin disana ?

Q : Dibilangin jangan tanya saya, mas. T.T
A : Oh, iya, maaf-maaf. Khilaf.
Hm, oke, lanjut ya.
Menurut sudut pandang  gue, media massa Indonesia saat ini kek kekurangan bahan untuk diliput.
Jadinya, tiap kita liat berita, infotainment, liputan, wawancara, debat, reality show, dll, isinya cuman berita-berita negatif. Dan, sebagian besar dari berita negatif itu, cuma opini yang ditekanin terus menerus biar keliatan kek fakta. Mau contoh ? Tau kan beberapa waktu yang lalu, ada orang sakit trus meninggal yang ngakunya ditolak RS ?

RS yang bersangkutan otomatis citranya turun, hanya dalam itungan hari bahkan jam. Setelah diklarifikasi Pemprov, pasien tersebut nggak ditolak, bahkan udah mendapat perawatan medis pertama, melainkan si pasien tersebut dirujuk ke rumah sakit umum lainnya, karena kapasitas sudah penuh. Dalam konteks ini, RS tidak memandang orang tersebut miskin atau kaya. Memang kapasitasnya sudah penuh, mau apa lagi ? Dokter juga manusia. Mereka perlu istirahat. Sudah ada peraturan yang menjadi pedomannya. Apalagi orang yang sudah berprofesi sebagai dokter pastinya punya peri kemanusiaan yang lebih dong, nggak mungkin juga dari lubuk hati mereka nolak pasien yang sakit mentah-mentah. Selalu ada stigma sebab akibat. Pasti.

Coba aja, sekolah yang kuotanya 200, pasti ya nerima anaknya cuma 200, nggak lebih. Dan, banyak anak di negeri ini yang nggak mengenyam dunia pendidikan. Apakah sekolah menolak anak-anak untuk mencari ilmu ? Tentu saja tidak. Karena, masing-masing sekolah memiliki aturan internalnya masing-masing. Ada kuotanya.
Lalu, beberapa media online yang free-sharing, alias siapa aja bebas nulis tentang suatu peristiwa, nulis judul berita/artikel/info tadi dengan penggunaan kata yang sangat kasar. Seperti, [Pasien dibiarkan mati oleh RS .........] [RS Nolak Pasien Miskin .....] dan lain sebagainya.
Jika terbukti menolak, alangkah baiknya pemberitaan tidak seheboh yang terjadi di media. Nggak segitu aja, media massa juga turut serta melucuti wibawa pemerintah. Memang, pemerintah ada yang kurang baik, dan tidak baik (koruptor, dll), tapi yang baik toh juga lebih banyak. Jangan menganggap mereka sama. Asumsikan pegawai pemerintah 1000, yang korupsi 10, dan 990 nya normal. Tapi yang disiarin di media cuman 10 orang tadi. Nah, gimana jadinya ? Citra 990 lainnya menjadi buruk di benak orang-orang yg menerima informasi tersebut tanpa filter.
Apapun yang media beritakan, pasti ujung-ujungnya nyalahin pemerintah. Makanya, banyak masyarakat yang udah nggak simpati sama pemerintah, karena informasi sugestif yang media berikan. Mulai paham opini saya ?

Q :  Emm, dikit dikit sih. Mas, bisa kasih contoh citra yang buruk itu gimana ?
A : Oke, ini gue pake survey terselubung. Obyek nya temen sekelas gue, SCELETON SMANSA muehehehe.
Gue nyamperin beberapa responden, gue tanyain gini nih... intinya doang ya.
--------------------
Gue : Gaes, gimana pendapat kalian tentang SBY?
Mawar : Anjrit!! Lemot! Ngga tegas sama sekali.
Melati : Ho oh, bisanya cuman prihatin-prihatin doang.
Matahari : Iye, pernah ngeluh gaji juga ye ?
Anggrek : Ah, duitnya cuman buat beliin lensa bininya.
Kaktus : Apa-apa serba mahal broo! Yg dipentingin urusan perut broo

((Diterjemahkan dalam bahasa gaul))
--------------------
Yah, itu sebagian sampel yang gue masukin ke dalam tulisan ini. Ironis bukan ?
Beberapa sampel yang lain masih memiliki sudut pandang yang masih bisa dikatakan bagus. Tidak sentimen, subyektif, dan pesimis.

Berita yang disiarin sama media massa andilnya cukup besar terhadap pola pikir masyarakat.Seperti contoh yang gue sampein barusan. Media massa Indonesia itu cirinya (kalo gue amatin ya) adalah nyiarin suatu berita yang kurang edukatif dan sifatnya buruk kepada masyarakat dan itu dilakukan secara berulang-ulang.

Padahal?
Apa sih prestasi Pak SBY untuk Indonesia ini ?
Buanyak gaes! Buanyak yang gak diliput!
Bahkan lebih banyak good news dari media asing daripada media indonesia. Ga percaya? Lets do the google! Bahkan gue masih bingung, ntar 2014 siapa orang yang cocok buat gantiin posisi presiden sekaliber SBY ? Apakah ada tokoh yang pantas ? Mengingat kursi partai politik yang besar kini berada di tangan orang yang kurang arif dan bijaksana. Itu perspektif gue sih. Elo sih serah deh~

Q : Pasti fansnya SBY ya? Bela-belain gitu
A : Ahahahah, fans? Em? IYA! Masalah? Kalo beliau menurut gue orang yang bagus, gue suka!
Bacalah beberapa berita yang dapat dipertanggungjawabkan keaktualan datanya. Jangan cuman dengerin berita2 gosip yang gajelas sumbernya dan gajelas isinya. Bukalah jendela cakrawalamu! Banyak jendela yang masih dapat dilihat~
Jangan ngeliat dari satu sisi aja. Obyektif dong mas~
Jadilah pribadi yang berprinsip teguh! Jangan cuma bilang, "eh, katanya....", "parah deh..." tanpa sebab musabab yang jelas tanpa ditelusuri secara mandiri!

Q : Oh gitu ya, gue juga sih masih gitu sih hehehe, trus mas pengennya gimana ?
A : Hehe, pengennya ? pengen tau aja apa pengen tau banget ?

Q : Gak lucu homo! Serius dong!
A : Hehe, pengennya ada edukasi kepada masyarakat untuk PUNYA SIKAP FILTER terhadap pemberitaan masa kini yang mayoritas udah nggak sesuai sama ketentuan UU No. 32 tahun 2002 tentang Penyiaran terkait Haluan Dasar, Karateristik Penyiaran dan Prinsip Dasar Penyiaran di Indonesia. Padahal di ketentuan undang-undang tersebut *bisa diunduh di laman Komisi Penyiaran Indonesia* bagian arah haluan dasar poin i tercantumkan kalimat yang berbunyi, "memberikan informasi yang benar, seimbang, dan bertanggung jawab." Jadi masyarakat bisa menyaring informasi mana yang fakta mana yang opini sepihak yang ditekan terus menerus seolah olah itu adalah fakta termutakhir alias NGGAK MAKAN BERITA MENTAH-MENTAH!
Saya merasa agak kasihan sama Bapak Presiden kita yang sering dihujam sana sini seakan akan rakyat Indonesia salah memilihnya. Padahal banyak kebijakan yang dibentuk oleh Pak SBY namun jarang diliput. Yang diliput hanya celah kecilnya saja. Maklum lah, orang yang iri itu pasti cuman bisa nyari kesalahan orang aja. Kalo ngeliatin media sekarang, pasti mayoritas orang beranggapan, "negara miskin, negara hancur, negara bobrok, negara korupsi, negara lemah, dsb". Padahal tinggal bagaimana kita melihat suatu permasalahan dari sudut pandang mana dan bagaimana cara kita menyikapinya. Misal dengan berasumsi bagaimana rasanya menjadi presiden, menteri pendidikan, ketua kpk, hakim atau yang lainnya. Pasti ada sudut pandang yang berbeda. 
Sebenernya mau nulis banyak, tapi apa ada yang bakal baca ? muehehehe
Oiya, ada saran dari  gue nih yaa, coba follow @GNFI <-- isinya good news good news indonesia yang bahkan elo elo semuah jarang tau. *efek nonton tv kebanyakan sih*
Banyak prestasi yang diraih Indonesia yan jarang atau bahkan belum pernah terliput karena kalah sama kasus korupsi, pemerkosaan, penculikan, pembunuhan yang disiarin berulang-ulang oleh media.
Padahal masih banyak berita positif mengenai kehebatan negara kita.

Bisa ngebayangin kan? Gimana kalo amanah oleh lembaga2 penyiaran dijalanin sesuai UU dan konstitusi? Kita adalah generasi emas! Optimis lah!

Salam Garuda Muda!

0 komentar: